Minggu, 02 September 2018

TARI KECAK

Kelompok Lima

Khaysa
Anisa
Nadin
Rino
Zein

                         TARI KECAK

1. ASAL DAERAH

Tari kecak adalah kesenian tari  yang berasal dari Pulau Bali.Asal usul tari kecak sebenarnya berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.Walaupun Asal mula tari kecak ini berasal dari pulau Bali, tapi tari kecak ini diciptakan bersama dengan seniman luar negeri, yaitu Walter Spies seorang pelukis dari Jerman.

2. TAHUN PENCIPTA

Tari kecak adalah salah satu jenis kesenian tradisional dari Bali yang diciptakan pada kisaran tahun 1930 oleh seorang penari sekaligus seniman dari Bali yakni Wayan Limbak.

3. NAMA PENCIPTA

Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

4. SINOPSIS/SEJARAH TARI KECAK

Salah satu jenis kesenian tari ini disajikan oleh para penari yang duduk melingkar serta mengucapkan kata “cak-cak-cak-cak” secara serentak, karena ini pula tarian ini diberi nama dengan sebutan “tari kecak”. Gerakan tangan yang disajikan dalam pertunjukan sebenarnya mengisahkan sebuah cerita Ramayana yakni pada peristiwa Dewi Shinta diculik oleh Rahwana. Hingga akhir pertunjukan biasanya tari ini menyajikan kisah pembebasan Dewi Sintha dari tangan Rahwana.

Guna mendukung cerita yang disajikan maka dalam pertunjukan tari tradisional Bali juga harus terdapat beberapa tokoh yang memerankan peran utama sebagai Hanoman, Sugriwa, Dewi Shinta, Rhama, dan Rahwana.

Pada tahun 70-an Wayang Limbak bekerja keras guna mempromosikan dan mengenalkan tari kecak hingga ke mancanegara. Selain mengenalkan keunikan dalam pementasan tarian ini tentu saja daerah asal kesenian ini ikut melambung di dunia Internasional yang kemudian menarik para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Bali.

Dalam perkembangannya pertunjukan tari yang juga menceritakan kisah pewayangan ini dimainkan oleh laki-laki yang berjumlah tak terbatas. Ada kalanya disajikan oleh puluhan orang namun dalam acara tertentu ada pula yang dipertunjukkan secara massal oleh ribuan penari.

Perkembangan tari kecak dari awal terciptanya hingga kini memang bisa dikatakan cukup membanggakan. Selain antusias masyarakat Bali terhadap seni garapan Wayan Limbak ternyata para wisatawan yang berkunjung ke Bali juga sangat tertarik dalam menyaksikan sebuah pertunjukan gerak seni ini. Tak heran jika pemerintah daerah setempat menjadikan tari kecak sebagai salah satu icon kesenian dan kebudayaan daerah.

The Monkey Dance juga diberikan sebagai sebutan tari tradisional Bali yang satu ini. Hal ini diberikan karena salah satu adegan dalam pertunjukan tari tersebut menggunakan properti api serta tokoh utama yang berperan sebagai kera/ Hanoman.

5. FUNGSI TARI

Tari Kecak mempunyai banyak fungsi diantaranya ;
1.Sarana upacara
2.Sarana hiburan
3.Sarana pertunjukkan
4.Sarana pendidikan
5.Menumbuhkan Persatuan dan Persaudaraan
6.Melestarikan Kebudayaan

6. RIAS DAN BUSANA

Tata Rias dan Tata Busana Secara umum penari tari kecak yang semuanya pria mengenakan kostum atau busana berupa bawahan celana hitam yang dilengkapi dengan selendang kotak-kotak hitam putih seperti warna papan catur. Mereka tidak menggunakan atasan alias hanya bertelanjang dada, tapi menggunakan gelang kaki yang dilengkapi dengan kerincingan yang akan berbunyi bila kaki mereka dihentakan. Selain penari pada umumnya, terdapat lakon rahwana, hanoman, dewi Shinta, dan Sri Rama yang menggunakan kostum dan riasan menyerupai lakon-lakon tersebut.

7. IRINGAN TARI

Iringan Tari Tari kecak tidak diiringi dengan tetabuhan atau musik tertentu, melainkan hanya diiringi oleh suara “Cak..cak..cak!” yang diteriakan para penarinya secara bersama-sama. Bunyi gemerincing gelang kaki yang dihentakan setiap penari juga menambah riuh dan dinamisnya tarian ini. Meski tanpa tetabuhan, dua bunyi pengiring tersebut justru membuat pertunjukan tari ini semakin khas.